Pernah jadi orang yang bilang “udah, aku aja”, padahal sebenarnya pengin dibantu? 👀 Di tugas kelompok, ada yang merangkap ketua sampai tukang revisi. Ada yang hilang saat diskusi, jawab “terserah” setiap ditanya, atau baru aktif ketika deadline sudah dekat. Coba geser sampai akhir, lalu ngaku: kamu paling mirip yang mana? Atau peranmu berubah tergantung siapa teman kelompoknya? Sekalian bahas: kalau kontribusinya beda jauh, adil nggak kalau semua anggota dapat nilai yang sama? Ceritakan pengalaman kelompokmu di komentar. Penasaran bagaimana kalian membagi tugas sampai akhirnya selesai.
Gambar 1 / 6
Kalau harus mengorbankan salah satu, kamu lebih rela IPK turun atau melepas kesempatan berorganisasi? Idealnya, akademik bagus dan pengalaman organisasi juga jalan. Tapi saat jadwal kuliah, tugas, dan rapat bertabrakan, kamu tetap perlu menentukan prioritas. IPK bisa menjadi syarat mengikuti seleksi tertentu. Lewat organisasi, kamu bisa mendapat pengalaman memimpin dan bekerja dalam tim. Meski begitu, nilai tinggi maupun daftar jabatan tetap perlu didukung kemampuan yang bisa kamu tunjukkan. Sesuai pilihan di slide terakhir: A. IPK tinggi, pengalaman organisasi minim. B. IPK cukup, pengalaman organisasi banyak. Kamu pilih A atau B? Tulis alasan yang menurutmu paling kuat di komentar. Kalau jawabanmu “tergantung”, jelaskan kondisinya. Untuk jurusan atau pekerjaan incaranmu, mana yang lebih layak diprioritaskan?
Gambar 1 / 6
Sudah lama nggak baca buku dan ingin mulai lagi? Coba pilih bacaan yang dekat dengan hal yang sedang kamu hadapi. Mungkin kamu ingin lebih konsisten menjalankan kebiasaan baik, memahami caramu menyikapi uang, atau belajar menentukan mana yang layak kamu pikirkan. Tiga buku self-improvement di atas bisa jadi pilihan untuk mulai membaca lagi. Nggak perlu memasang target langsung tamat. Luangkan 10 menit hari ini, baca beberapa halaman, lalu pikirkan satu hal yang bisa kamu coba dalam keseharian. Kamu boleh membaca pelan-pelan dan mempertanyakan isinya. Yuk, pilih buku yang bikin kamu penasaran dan buka halaman pertamanya malam ini. Dari ketiga buku ini, mana yang ingin kamu baca dulu? Tulis pilihanmu di komentar!
Gambar 1 / 5
Niatnya buka HP lima menit. Pas lihat jam, kok sudah sejam? 📱 Pengalaman seperti ini pernah diteliti. Dalam studi University of Washington terhadap 43 pengguna selama sebulan, sebagian peserta melaporkan scrolling tanpa benar-benar memperhatikan apa yang sedang mereka lakukan. Ada juga yang merasa begitu larut sampai lupa waktu (Baughan dkk., 2022.) Desain feed ikut berperan. Dengan infinite scroll, konten terus muncul tanpa halaman terakhir. Beberapa peserta menggambarkan bagaimana mereka terus menggeser layar sambil berharap menemukan sesuatu yang menarik. Dalam studi yang sama, pembagian konten ke dalam daftar dengan penanda selesai membantu peserta merasa lebih punya kendali atas penggunaannya (Studi University of Washington). Kebiasaan mengecek HP juga bisa membuat sesi singkat jadi panjang. Penelitian tentang checking habit menemukan bahwa mengecek informasi sebentar secara berulang kadang berlanjut ke aktivitas lain di ponsel. Jadi, niat awal hanya melihat pesan bisa berujung membuka aplikasi lain (Oulasvirta dkk., 2012). Lalu, apa yang bisa dicoba? Matikan notifikasi yang tidak penting dan letakkan HP di luar jangkauan saat tidak digunakan. Keduanya termasuk dalam gabungan strategi yang berhasil mengurangi waktu penggunaan ponsel dalam sebuah uji terkontrol. Hasilnya berlaku untuk gabungan strategi tersebut, jadi belum membuktikan bahwa satu langkah saja pasti cukup (Olson dkk., 2022). 👉 Geser untuk mengenali kebiasaan scrolling kamu. Saat membuka aplikasi berikutnya, coba ingat dulu: mau lihat apa, dan kapan mau berhenti? Kamu paling sering kebablasan scrolling di waktu apa? 👀
Gambar 1 / 6
Sering lihat istilah PM2.5 pas cek kualitas udara? Kenalan dulu sama partikel yang bisa ikut masuk setiap kita menarik napas. 👀 PM2.5 adalah partikel halus berukuran maksimal 2,5 mikrometer. Saking kecilnya, partikel ini bisa masuk jauh ke paru-paru. Sumbernya beragam, termasuk pembakaran bahan bakar, sampah, serta kebakaran hutan dan lahan. Langit yang terlihat cerah pun belum tentu berarti udaranya bersih. Kualitas udara perlu dicek lewat pengukuran, karena polutan tidak selalu terlihat oleh mata. Efeknya ke tubuh juga perlu diperhatikan. Paparan partikel halus bisa memperburuk gangguan pernapasan. Dalam jangka panjang, paparannya meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan kanker paru. Biar lebih terlindungi, coba biasakan: • Cek kualitas udara sebelum keluar rumah. • Kurangi olahraga berat di luar saat polusi tinggi. • Gunakan N95 yang pas dan rapat jika harus beraktivitas di luar saat berasap. • Hindari membakar sampah yang menambah polusi di sekitar. Pengendalian emisi dari kendaraan dan industri, serta pencegahan kebakaran hutan, juga perlu berjalan. Udara bersih adalah hak kita bersama. Sebelum berangkat, biasanya kamu cek cuaca saja atau sekalian kualitas udaranya?
Gambar 1 / 5
Sudah punya naskah yang ingin kamu terbitkan? Saatnya ceritamu dibaca dan didengar. 📖🎧 Spesial untuk 5 penulis pertama yang mengunggah bukunya di reads.tv, penerbitan buku ber-ISBN + audiobook tersedia 100% GRATIS! Kamu sudah mencurahkan waktu dan pikiran untuk menulisnya. Sekarang, beri pembaca kesempatan menikmati karyamu, lewat tulisan maupun suara. Jadi salah satu dari 5 penulis pertama. klik link di bio dan Unggah bukumu sekarang di reads.tv!